Acara bercinta yang sudah Anda idam-idamkan sejak tadi bisa berkurang kepuasannya hanya karena kecemasan-kecemasan yang sebenarnya tidak perlu. Singkirkan rasa khawatir yang bisa mengganggu supaya Anda dan suami bisa mendapatkan seks yang berkualitas.

1. Lampu terang atau gelap
Mematikan lampu menjadi cara jitu para wanita untuk menyembunyikan bentuk tubuh mereka di depan pasangan. Padahal menurut Debby Herbenick, penulis buku Because It Feels Good: A Woman’s Guide to Sexual Pleasure and Satisfaction, sebenarnya pria lebih menyukai suasana terang karena ingin melihat pasangannya tanpa busana.
Jika Anda masih belum terbiasa bercinta dengan lampu yang terang, pilih pencahayaan yang redup, misalnya memakai lilin atau lampu kecil. Tingkatkan rasa percaya diri dengan mencintai tubuh sendiri. Rasa percaya diri akan memunculkan sex appeal sehingga Anda terlihat lebih seksi di mata pasangan.
2. Khawatir dengan bau tak sedap
Banyak wanita yang cemas karena tak mau pasangannya mencium aroma tidak sedap dari tubuhnya, entah itu dari ketiak atau organ intim. Kekhawatiran ini bisa membuat Anda tak menikmati acara bercinta.

Bagaimana mengatasinya? Buang jauh kekhawatiran tersebut, karena pada dasarnya pada tubuh yang sehat dan bersih sekalipun bisa menebar bau. Sebenarnya bau alami tubuh mengandung feromon yang bisa memancing gairah pasangan.

3. Khawatir akan kentut atau buang gas
Rata-rata wanita kentut 14 kali dalam sehari. Tapi bagaimana bila itu terjadi saat sedang melakukan seks? Memang hal tersebut mungkin terjadi tapi bukan sesuatu yang perlu ditakutkan. Bangun obrolan yang menghibur dengan pasangan, misalnya menjadikan suara kentut sebagai bahan candaan sehingga Anda tidak canggung dan bisa tertawa lepas berdua.

4. Khawatir tidak bisa memuaskan

Wanita, seperti juga pria, kadang merasa gugup saat melakukan hubungan seks. Masing-masing memiliki kecemasan tidak dapat memuaskan pasangannya.
Sebenarnya semua berawal dari pikiran. Singkirkan kecemasan itu dengan berbicara dengan pasangan. Tanyakan hubungan seks seperti apa yang ia inginkan dan bagaimana memuaskannya. Bertanya secara langsung akan membantu kedua belah pihak mengetahui apa yang diharapkan dan bagaimana mencapainya.

5. Khawatir pasangan memikirkan orang lain

Tidak ada gunanya memikirkan dan mengkhawatirkan hal ini. Ketika suami sudah memilih Anda, maka sebenarnya nikmati momen yang ada. Cara mengatasinya adalah mencoba fokus pada apa yang ada sekarang, bukan masa lalu.

6. Takut tidak bisa orgasme

Wanita kadang khawatir atau cemas berlebihan akan orgasme atau tidak. Meski bisa dipahami, tetapi kekhawatiran berlebihan justru akan menjauhkan Anda dari pencapaian orgasme itu sendiri.
Cara mengatasinya, fokuslah pada proses melakukan hubungan seks. Rasakan setiap sentuhan dan stimulasi yang diberikan pasangan dan jangan ragu untuk membalasnya. Biarkan semua mengalir apa adanya tanpa perlu dibebani target harus mencapai puncak.

7. Tidak nyaman dengan oral seks

Ada tiga kekhawatiran yang kerap dialami wanita akan seks oral, di antaranya tidak tahu bagaimana melakukannya dengan baik hingga bisa memuaskan pasangan, tidak tahu bagaimana menikmatinya, serta khawatir akan kebersihan dan bau yang timbul dari organ intim.

Sebenarnya sudah cukup banyak artikel yang mengupas mengenai teknik melakukan seks oral. Anda bisa menyingkirkan rasa takut dan malu dengan belajar melakukannya. Jika memang tidak nyaman, katakan saja terus terang. Pasangan tentu lebih menghargai kejujuran Anda daripada Anda terpaksa dan justru tidak menikmatinya.





Sumber :WomansDay


epsilon
Seorang keponakan suami bercerita kepada saya bahwa ia membeli rumah. “Tapi belum ditinggalin.Kata papa lagi mau cari hari baik untuk selamatan. Kenapa ya?. Kan semua hari adalah baik?”Tanyanya. Saya tertawa mendengarnya. Kebetulan ayah dari keponakan suami saya ini berasal dari Bali. Setahu saya memang begitu biasanya di Bali. Selalu melihat kalender untuk mencari waktu yang ‘tepat’ jika mau melakukan sesuatu. 
 
Memang agak susah menjelaskan kepada orang yang tidak besar di lingkungan adat Bali. Terlalu njelimet dan belum tentu dianggap masuk akal. Tapi berhubung keponakan ini bertanya, saya berusaha menjelaskannya semampu saya sebagai orang biasa – yang sekedar tahu kebiasaan di Bali karena menjalaninya seperti itu setiap hari. Namun saya bukanlah ekspert di bidangnya.
Ya. Setuju sekali. Semua Hari Adalah Baik. Tidak ada hari yang buruk. Namun masyarakat Bali memahami adanya “Waktu Yang Tepat” untuk melakukan suatu aktifitas tertentu. Demikian juga ada “Waktu yang Kurang Tepat” untuk aktifitas yang lain. Perhitungan waktu ini disebut dengan “Ala Ayuning Dewasa”, yang kalau diterjemahkan bebas, maksudnya adalah “Baik Buruknya Waktu”. Namun tentu saja tidak bisa diterjemehkan secara harfiah dangkal bahwa Hari A itu Baik, sementara Hari B itu jelek. Bukan begitu. Bisa saja hari A itu bagus untuk melakukan kegiatan a,b,c,d namun kurang bagus untuk melakukan kegiatan x,y,z. Jadi bukan baik atau buruk dalam segala hal.
Saya tidak jago dalam melakukan perhitungannya, tapi karena pernah diajarkan saat di bangku Sekolah Dasar dalam mata pelajaran yang bermuatan daerah, sedikit-sedikit saya masih ingat juga. Namun seperti orang lain, untuk memudahkan, biasanya saya tinggal mengintip di kalender traditional saja. Karena lebih praktis. 

Ada banyak jenis Dewasa Ayu di sana. Ada yang disebut Gni Rhwana, Amerta Bumi, Amertha Dadi, Karna Sula, Babi Munggah, Ayu Nulus, Cintamanik, Dewa Nglayang, Bojog Turun, dan sebagainya banyak sekali. Jumlahnya berpuluh-puluh. Setidaknya yang saya ingat dengan baik adalah “Gni Rhwana” dan “Karna Sula” karena Bapak saya pernah menceritakan cukup panjang lebar mengenai hal ini kepada saya ketika saya kecil.

Gni Rhwana – sesuai dengan namanya, hari Gni Rhwana adalah hari dimana Api memiliki kejayaan dan kemegahannya. Karena Gni artinya Api, sedangkan Rhwana adalah rajanya raksasa. Masyarakat Bali percaya,bahwa pada hari Gni Rhwana ini adalah hari yang sangat baik untuk melakukan segala aktifitas yang berkaitan dengan Api. Melakukan aktifitas di Merapen (workshop bagi kaum Pande emas, perak, logam lainnya), membakar batu kapur, membakar gerabah, batu bata, membakar somi (jerami batang padi sehabis panen) dan sebagainya. Semua hasil pembakaran akan optimal. Namun karena api akan menjadi sangat besar, tentu tidak sesuai untuk aktifitas yang lain yang tidak membutuhkan api besar berkobar. Misalnya, orang-orang jadi tidak merasa nyaman jika hari itu memasang atap rumah. Karena atap rumah (apalagi jaman dulu atap rumah orang Bali biasanya terbuat dari alang-alang) rentan kebakaran. Orang juga menghindarkan untuk melaspas rumah (upacara selamatan untuk rumah baru). Dan menghindar untuk bercocok tanam hari itu, agar terhindar dari kekeringan.

Contoh lain adalah hari Karna Sula. Pada hari itu dipercaya bahwa suara akan mendapatkan amplifikasinya. Suara yang baik akan terdengar bertambah baik. Sedangkan suara yang buruk akan terdengar semakin buruk. Hari baik untuk membuat atau membeli gamelan. Juga baik untuk membuat kulkul (kentongan kayu atau bambu), membuat sunari (baling-baling angin yang dipajang tinggi di udara dengan bantuan bambu untuk menghasilkan musik alam yang sangat merdu), atau membuat genta atau bajra bagi para pendeta untuk menuntun umat dalam persembahyangan. Dan berbagai alat bunyi-bunyian lainnya. Semua dilakukan pada hari Karna Sula. Bahkan hingga membuat keroncongan yang diikatkan di leher sapi-pun dilakukan pada hari itu.

Namun pada hari yang sama, yakni hari Karna Sula itu, orang-orang akan cenderung mengurangi bicara. Karena jika kita salah sedikit saja berbicara, maka akan terjadi amplifikasi buruk.Sehingga akan menjadi sangat menyakitkan bagi telinga orang lain. Orang-orang akhirnya akan memilih diam saja. Ataupun jika berbicara, maka akan sangat berhati-hati dan berusaha keras untuk hanya berbicara yang baik-baik saja. Jadi, para tetua adat biasanya tidak akan menyarankan untuk dilakukannya meeting, rapat dan berbagai jenis pertemuan lainnya. Bahkan tidak disarankan untuk membangun rumah dan membuat tempat tidur, agar kelelapan tidur penghuninya tidak terganggu.

Semua Dewasa atau hari-hari yang lain juga memiliki ceritanya masing-masing. Pada saat hari Babi Munggah, petani di Bali tidak akan memulai bercocok tanam untuk mencegah agar hasil panennya tidak rusak. Lalu orang akan cenderung meresmikan awig-awig (peraturan/perundang-undangan) pada hari Kala Guru. Tidak melakukan pekerjaan besar dan penting pada hari Geheng Manyinget agar tidak terjadi banyak gangguan. Akan membuat lumbung pada hari Amerta Dewa dan sebagainya. 

Boleh percaya tau tidak. Setuju atau tidak setuju, namun memang begitulah adanya kehidupan masayarakat di Bali. Lalu apakah dengan demikian, berarti masyarakat Bali pintar meramal? Atau sok tahu mendahului kehendak Tuhan? Tidak juga.
Bagi masyarakat di Bali, Ala Ayuning Dewasa bukanlah soal urusan ramal meramal nasib perorangan (Fortune telling), namun urusan meramal dengan hitung-menghitung yang berlaku umum. Forecasting! Seperti ramalan cuaca. Para ahli bisa menentukannya dengan bantuan pengalaman dan alat bantu. Juga seperti para petani meramalkan musim tanam dengan hanya memandang posisi bintang di langit. Demikian juga Ala Ayuning Dewasa pada prinsipnya bekerja. 

Masyarakat sangat percaya akan kehendakNYA. Jika Beliau sudah menghendaki apapun bisa terjadi dan tidak ada manusia yang bisa mendahuluiNYA. Namun masyarakat percaya bahwa ilmu Ala Ayuning Dewasa ini tentu ditulis oleh para ahlinya berdasarkan pengamatan dan penelitian selama beratus-ratus tahun secara turun-temurun. Berdasarkan pencatatan atas kejadian sehari-hari yang dikaitkan dengan penanggalan. Sehingga pada suatu saat disusunlah kalender dengan Ala Ayuning Dewasa itu hanya sebagai saran. Boleh diikuti sarannya, boleh tidak. Terserah masyarakat.
Itulah sebabnya mengapa akhirnya penanggalan menjadi sangat penting di Bali. Sedikit-sedikit lihat kalender untuk mencari Dewasa Ayu (waktu yang tepat). Karena setiap aktifitas ada hitungannya. Jadi harus direncanakan dengan baik, dengan maksud agar semuanya berjalan dengan baik, halus dan mulus tanpa banyak rintangan.
Itulah Ala Ayuning Dewasa, salah satu bentuk kearifan lokal yang dimiliki oleh Nusantara kita.


epsilon
Kerap ada yang bertanya, apa pendapat saya tentang laki-laki dan perempuan yang berselingkuh. Saya bilang, biasa saja. Maksud saya, saya tidak takjub dan juga tidak heran secara berlebihan. Biasa saja.
Ketika pasangan saya berselingkuh, saya pernah menangis, menderita dan marah. Saya mengira lelaki saya tersesat dan saya ini sudah lurus. Namun, pelan-pelan saya belajar sesuatu dan mengerti bahwa sejatinya, kami sama-sama tersesat.
Saya dan dia sama-sama kehilangan jalan pulang. Dia tersesat entah kemana. Dan saya? Saya menuhankan dia, menggusur Tuhan dari kursiNya dan mengganti Tuhan dengan pasangan saya. Saya merasa bahwa hilangnya dia akan hilang segala saya. Saya bahkan “lupa berandai-andai”, bagaimana bila sampai saya kehilangan Tuhan. “Bagaimana bila Tuhan meninggalkan saya” tidak pernah sekalipun saya pertanyakan.
“Ia yang menderita (ditinggalkan pasangan) adalah ia yang ketakutan”, kata guru. Saya memeriksa diri secara mendalam agar saya menemukan apa sejatinya yang saya takutkan itu. Dan benar apa yang dikatakan guru.
  1. Saya ketakutan kehilangan pendapatan, saya takut pendapatannya dibagi-bagi…padahal pendapatan hanyalah salah satu saja bentuk dari rejeki..dan rejeki itu bersumber dari Yang Maha Memberi Rejeki. Dia hanya lantaran/jalan saja.
  2. Saya ketakutan kehilangan kekuatan, padahal saya gemar menasehati orang bahwa sumber kekuatan dan sumber dari segala sumber energy adalah Yang Maha Memiliki Kekuatan,
  3. Saya takut hidup sendirian, padahal sejatinya saya tidak pernah sendirian. Ada teman Yang Maha Setia, yang kesetiaannya tidak perlu saya pertanyakan. Yang “telinganya” sanggup mendengar apa saja yang saya ceritakan. Yang uluran tangannya siap saya pegangi setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik.
  4. Saya ketakutan kehilangan “seonggok daging” yang juga mengandung daya bebas. Sementara saya suka berceramah bahwa Allah itu Yang Maha Berhak atas saya dan dia.
  5. Saya merasa ketakutan kehilangan teman berhubungan badan. Saya kurang mengerti bahwa sejatinya, cinta dan berhubungan badan adalah dua hal yang berbeda. Love dan making love itu tidak sama. Dan..hidup tidaklah identik dengan sexualitas. Sex hanya sebagian kecil dari kegiatan kehidupan. Sex hanya sedikit saja bagian dari kegiatan cinta dan kecintaan. Masih banyak kegiatan-kegiatn lain yang maha luas yang merupakan manifestasi dari cinta dan kecintaan.
Ketika saya sadari ketakutan-ketakutan yang menggelikan itu, saya mulai bergerak “ke dalam”. Kegiatan ini memberitahu saya cara-cara melihat arah yang jelas kemana saya harus berjalan. Kegiatan ini menuntun saya kembali pulang dari “ketersesatan”.
Sejak hari itu saya tidak pernah takut kehilangan. Termasuk kehilangan pasangan. Saya tidak pernah lelah berbagi tentang penting dan indahnya mencintai tanpa syarat.
Bagi yang malas mengadakan perjalanan ke dalam, ini memang sulit. Saya mengerti dan sangat maklum. Saya pernah mengalami menjadi orang yang malas berpikir. Saya juga pernah malas mengadakan perjalanan ke dalam. Saya pernah mencintai dengan penuh syarat, penuh harapan akan balasan-balasan tertentu, termasuk balasan kesetiaan. Dan hasilnya? Memang penderitaan/ketidakbahagiaan.
Tentang penderitaan akibat mencintai dengan penuh syarat dan tentang indahnya cinta tanpa syarat bisa dihayati pada pertanyaan ini:
“Siapa yang sanggup menyakitimu sehebat itu selain dari orang yang kau cintai dengan penuh syarat?”
Atau pada pernyataan ini:
“Hanya orang yang kau cintai dengan penuh syarat yang punya kesanggupan menyakitimu sehebat yang kamu rasakan”
Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Allah Yang Maha Kuasa. Terima kasih kepada semua yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!


epsilon
Bagi pasangan suami istri atau pasangan kekasih dan bagi yang sudah memiliki anak, kata ngambek tentu sudah tidak asing lagi untuk dijumpai di kehidupan sehari-hari. Bahkan di media sosial, seperti Kompasiana atau Facebook, bisa juga membuat seseorang ngambek, contohnya bila kita komen di lapak seseorang tetapi tidak dijawab oleh yang punya lapak atau komen orang lain dijawab sedangkan komen kita dilewati begitu saja, alias hanya dipilih berdasarkan siapa pemberi komen dan atau bagaimana isi komentar.

Karena tertarik dengan kata ngambek maka saya menelusuri Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan yang saya jumpai hanya kata dasarnya yaitu Ambek yang merujuk kepada kata Merajuk, yang artinya (1). Menunjukkan rasa tidak senang (dengan mendiamkan, tidak mau bergaul). (2) bersungut-sungut atau mengomel.

Ngambek sering diidentikkan dengan sifat kekanak-kanakan, karena hampir semua anak mengekspresikan rasa tidak senang atau emosinya dengan cara ngambek dan umumnya ditunjukkan kepada orang yang lebih dewasa darinya.

Untuk hubungan orang tua-anak, kakak-adik, suami-istri atau kekasih, bahkan pada hubungan kerja atasan-bawahan, dan persahabatan, mengetahui bahwa salah satu dari mereka sedang ngambek atau tidak tentulah sangat mudah, karena biasanya ada perubahan sikap seperti, yang biasanya antusias saat bercerita, ditanya satu kalimat djawab satu paragraph, tiba-tiba berubah menjadi jawaban singkat yang hanya satu atau dua kata. Perubahan yanga paling sering terlihat dari ekspresi wajah, yang biasanya selalu tersenyum manis tiba-tiba menjadi cemberut dan mendadak menjadi sangat pendiam.

Mengidentifikasi seseorang ngambek atau tidak untuk hubungan didunia maya agak sulit, karena kita tidak dapat melihat ekspresinya secara langsung, sehingga terkadang menimbulkan pertanyaan bila yang tadinya sering muncul komen di setiap tulisan atau chatting grup, tiba-tiba menghilang begitu saja. Apakah hilangnya orang tersebut karena ngambek atau memang sedang sibuk atau sedang terjadi sesuatu.

Ngambek merupakan sebuah ekpresi kemarahan seseorang dengan pilihan tidak menyakiti orang lain, sehingga cenderung menghasilkan perubahan sikap dan emosi pada dirinya sendiri. Bila rasa tidak suka atau tidak senangnya dikeluarkan, caranya tidak langsung kepada orang yang tidak disukainya melainkan dengan bercerita kepada orang lain, menangis atau bicara sendiri (ngedumel). Untuk didunia maya, biasanya orang tersebut akan kapok untuk berkomentar di status atau di tulisan seseorang yang sudah mengecewakannya.

Cara mengatasi atau menghadapi orang yang sedang ngambek bergantung kepada kedekatan sebuah hubungan, tapi cara yang paling efektif adalah dengan membujuk atau merayu seperti kepada anak kecil. Untuk hubungan pasutri atau kekasih, biasanya salah satu pihak akan memilih diam hingga pihak yang sedang ngambek tenang dan kemudian baru menjalankan aksinya untuk berbaikan kembali. Bagi yang suka nonton Drama Korea, adegan ngambek ini biasanya diakhiri dengan adegan romantis.

Dengan rentang 1 sampai dengan 10, mungkin ngambek hanya berada diangka 5 atau 6 tingkat kemarahan seseorang, sehingga biasanya akan dengan mudah untuk melupakan dan baik kembali, bergantung pada cara pasangan untuk memulihkannya.

Sebenarnya, ngambek itu merugikan diri sendiri, tetapi merupakan pilihan terbaik daripada merugikan atau menyakiti orang lain, apalagi orang yang kita sayang. Ada yang suka ngambek? gak ada pasti, gak ada yang ngaku hehehehe.

epsilon
Sering kutemukan diskusi di antara ibu-ibu, mengenai les musik anaknya. Memang saat ini, les musik sudah menjadi salah satu kursus yang diikuti oleh anak-anak. Salah satu topiknya adalah, “Musik Klasik tuh bagus. Tapi anakku senengnya yang lagu-lagu jaman sekarang. Jadi dia bosen.”

Berbicara antara dua genre utama musik tsb, yaitu klasik dan pop, memang agak bertentangan. Dalam klasik, anak-anak diajarkan untuk tekun dan teliti. Mereka harus disiplin latihan, wajib menghabiskan puluhan buku tehnik, dan mampu memainkan karya komposer besar dengan sangat presisi. Ibarat kata, musik klasik itu musik idealis. Memberikan kepuasan tersendiri bagi penggemarnya.

Sementara musik pop, cenderung lebih bebas. Tanpa terpaku pada not balok, dengan hanya bermodalkan not angka dan simbol akor bahkan hanya dari mendengarkan, anak-anak sudah mampu memainkannya. Asalkan mereka inisiatif dan kreatif, mereka akan mampu mengiringi orang bernyanyi dan bermain dalam kelompok. Maka banyak orang otodidak dengan musikalitas tinggi yang permainannya menyenangkan hati.

Mana yang lebih baik???
Musik klasik memang memiliki kebanggaan tersendiri, karena menurut sejarah, musik klasik dulunya hanya dimiliki oleh bangsawan. Sementara musik pop sendiri memang muncul karena popularitas di masyarakat. Namun pada kenyataannya, ketika seorang anak hanya belajar klasik,  ia akan mampu memainkan karya-karya Mozart, tapi akan kesulitan untuk memainkan lagu yang tidak ada partiturnya. Ketika seorang anak hanya belajar pop, ia akan mahir memainkan aneka lagu yang sedang hits, tapi akan kesulitan di akademis musik, ia akan “kabur” begitu diminta memainkan karya musik berdasarkan not balok yang
“njelimet!”.
Yang bagus memang adalah kombinasi keduanya. Karena tidak ada anak yang benar-benar sama. Ada anak yang memang cocok di klasik, ada juga yang cocok di pop. Tapi bagaimana kita tahu anak kita cocok di musik yang mana, apabila kita tidak mengenalkan keduanya? Biarkan anak kita melahap semua genre musik yang ada, sehingga ia makin kaya secara ilmu, tidak hanya dikotakkan ke dalam satu jenis genre. Alhasil ketika anak belajar klasik dan pop dari awalnya, ia akan dapat membaca not balok, dapat memainkan akor, dapat bermain solo, dapat pula bermain dalam band. Pilihlah tempat belajar yang dapat mengakomodasi keduanya sekaligus dengan metode yang tepat.
- Risti Irawan, S.Mus. -





epsilon
Copyright © 2012 SANKARACARYA .